Lewati ke konten
Kembali ke blog
Tim Lancartech 2 menit baca

PostgreSQL vs MySQL untuk SaaS Indonesia di 2026

Setelah build 30+ SaaS, ini alasan kenapa kami default ke PostgreSQL — dan kapan MySQL masih masuk akal.

PostgreSQL vs MySQL untuk SaaS Indonesia di 2026

Default kami: PostgreSQL

Alasan utama untuk SaaS multi-tenant skala apa pun:

  1. JSONB — ekstensi dokumen native yang query-nya bisa di-index. Schema fleksibel tanpa pindah ke MongoDB.
  2. CTE & Window Functions — query analytics jauh lebih bersih. Cocok untuk dashboard reporting.
  3. Row-Level Security (RLS) — multi-tenant isolation di level database. Bug di app code tidak otomatis bocor data antar-tenant.
  4. Logical replication — easy ke read-replica, easy ke ETL ke data warehouse.
  5. Full-text search built-in (tsvector) — untuk SaaS skala kecil-menengah, tidak perlu Elasticsearch terpisah.

Kapan MySQL masih masuk akal

  • Wordpress / WooCommerce ecosystem — toolchain MySQL-first.
  • Read-heavy dengan ratusan ribu QPS sederhana — MySQL bisa lebih cepat di workload basic.
  • Tim ops sudah expert di MySQL replication / Percona / Vitess.
  • Hosting murah dengan MySQL sudah pre-installed — beberapa shared hosting masih MySQL-only.

Yang sering jadi pertimbangan tapi tidak relevan

  • “PostgreSQL lebih lambat untuk write” — di hardware modern (Ryzen + NVMe Gen 4), perbedaan tidak terlihat sampai ribuan TPS. Bottleneck biasanya di app code, bukan DB engine.
  • “MySQL lebih familiar” — query basic identik. Yang beda adalah extension PG yang tidak ada padanannya di MySQL.

Setup standar kami

PostgreSQL 17 (atau Supabase Postgres)
+ pgbouncer (connection pooling)
+ logical replication ke read replica
+ daily backup (pg_dump) + WAL archiving

Untuk diskusi arsitektur database, konsultasi gratis.

Tim Lancartech · · 2 menit baca

Siap mulai proyek berikutnya?

Konsultasi awal gratis — kami bantu rancang strategi digital yang paling cocok untuk bisnis Anda.