Kembali ke blog
PostgreSQL vs MySQL untuk SaaS Indonesia di 2026
Setelah build 30+ SaaS, ini alasan kenapa kami default ke PostgreSQL — dan kapan MySQL masih masuk akal.
Default kami: PostgreSQL
Alasan utama untuk SaaS multi-tenant skala apa pun:
- JSONB — ekstensi dokumen native yang query-nya bisa di-index. Schema fleksibel tanpa pindah ke MongoDB.
- CTE & Window Functions — query analytics jauh lebih bersih. Cocok untuk dashboard reporting.
- Row-Level Security (RLS) — multi-tenant isolation di level database. Bug di app code tidak otomatis bocor data antar-tenant.
- Logical replication — easy ke read-replica, easy ke ETL ke data warehouse.
- Full-text search built-in (
tsvector) — untuk SaaS skala kecil-menengah, tidak perlu Elasticsearch terpisah.
Kapan MySQL masih masuk akal
- Wordpress / WooCommerce ecosystem — toolchain MySQL-first.
- Read-heavy dengan ratusan ribu QPS sederhana — MySQL bisa lebih cepat di workload basic.
- Tim ops sudah expert di MySQL replication / Percona / Vitess.
- Hosting murah dengan MySQL sudah pre-installed — beberapa shared hosting masih MySQL-only.
Yang sering jadi pertimbangan tapi tidak relevan
- “PostgreSQL lebih lambat untuk write” — di hardware modern (Ryzen + NVMe Gen 4), perbedaan tidak terlihat sampai ribuan TPS. Bottleneck biasanya di app code, bukan DB engine.
- “MySQL lebih familiar” — query basic identik. Yang beda adalah extension PG yang tidak ada padanannya di MySQL.
Setup standar kami
PostgreSQL 17 (atau Supabase Postgres)
+ pgbouncer (connection pooling)
+ logical replication ke read replica
+ daily backup (pg_dump) + WAL archiving
Untuk diskusi arsitektur database, konsultasi gratis.